“Sexomnia”, Bercinta Sambil Tidur

24 Oktober 2009 at 12:19 pm (Kesehatan) (, , , , , , )

Meski menjengkelkan bagi kaum perempuan, namun banyak pria yang langsung tertidur setelah bercinta. Namun, ternyata ada yang lebih menjengkelkan dari hal itu, yakni orang yang berhubungan seksual sambil tidur. Kondisi ini oleh para ahli disebut sebagai sexomnia.

Tiga peneliti dari Universitas Otawa, Toronto, dan the Toronto Western Hospital, mendeskripsikan sexomnia sebagai gabungan antara mengalami mimpi basah dan tidur sambil berjalan (sleepwalking). Yang menarik, berdasarkan penelitian yang dilakukan para peneliti, kebanyakan pasangan dari orang yang sexomnia tersebut tidak keberatan dengan kondisi pasangannya. Sebagian besar malah senang dan tak peduli harus bercinta dengan pasangannya yang sedang dalam kondisi tidak sadar.

Kelainan sexomnia ini ditemukan para ahli saat mereka mewawancarai pasien di sebuah klinik gangguan tidur. Sexomnia ini disebut sebagai variasi yang berbeda dari sleepwalking. Meski demikian, sebelumnya juga sudah diketahui adanya pasien sleepwalking yang melakukan perbuatan tidak senonoh saat mereka tertidur.

Dalam penelitian yang dilakukan di Kanada itu ditemukan 11 kasus sexomnia dan hampir seluruhnya adalah pria. Seorang suami berusia 35 tahun menggambarkan dirinya seperti sedang mengalami mimpi erotis, kemudian mewujudkan mimpi itu dengan istrinya tanpa sadar. Ia baru menyadari perilakunya saat sang istri menceritakannya keesokan harinya. Seorang kekasih dari pria berusia 43 tahun juga bercerita, pasangannya tersebut kerap melakukan hubungan seks sambil tertidur. Meski begitu, gadis ini tak keberatan karena, menurutnya, kekasihnya berubah jadi “orang lain” saat tertidur. “Dia jadi lebih lembut, romantis, dan berusaha memuaskan saya,” ujarnya. Seorang istri juga merasakan perilaku berbeda suaminya yang mengidap sexomnia. “Saat tertidur, ia justru jadi agresif di tempat tidur,” katanya. Meski jumlah kasus sexomnia yang ditemukan masih sedikit, namun para ahli menduga jumlahnya mungkin jauh lebih besar. Hal ini karena belum banyak penderita yang berkonsultasi ke dokter karena tidak menganggap kondisinya sebagai suatu masalah.

Sumber : health24, kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: